CHAPTER 1 - Part 1 (Rakha)

Bulan kedua di pengantar tahun 2012, ketika langit tengah berbicara kepadaku, melalui sengatan sinar mentari yang gagah perkasa seakan-akan menegaskan bahwa dialah sang penguasa hari, dengan hebatnya menyengat ubun-ubunku tanpa kompromi. Manakala kulihat jarum pendek jam di tanganku hampir menunjukan angka 12, sementara jarum panjangnya menunjukkan angka 10 lebih sedikit, seakan menegaskan satu kenyataan, bahwa inilah waktu di mana sang mentari akan menajamkan sengatannya di setiap jengkal kulit tanganku yang tak terlindungi sehelai kainpun.

“Bapak, makan siang di mana kita hari ini?” Tanya seorang pria paruh baya kepadaku, dengan logat bicara khas Indonesia timur.

“Sambil jalan aja Om, cari rumah makan di pinggiran juga gak apa-apa.” Jawabku seraya menyodorkan setumpuk dokumen kepadanya.

"Ke lokasi mana lagi kita sekarang?" Tanya pria itu lagi.

"Kita coba satu lokasi lagi, ke Batu Cermin, habis dari situ baru kita pulang ke hotel, istirahat." Jawabku.

“Baik, Bapak” Jawabnya singkat kemudian bergegas pergi ke arah SUV hitam yang terparkir tak jauh dari tempat kami. Diikuti olehku yang berjalan di belakangnya.

***

Aku adalah Rakha, seorang mahasiswa jurusan Aristektur tingkat akhir di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Bandung. Saat ini aku tercatat sebagai seorang mahasiswa yang tengah menyelesaikan Skripsi dan Tugas Akhir. Akan tetapi dokumen yang kuserahkan kepada pria tadi tentu bukanlah skripsi yang kumaksud.

Ya, saat aku hampir setengah jalan menyelesaikan proses skripsiku, tiba-tiba aku dilanda kejenuhan tingkat tinggi. Ditambah himpitan ekonomi di mana aku harus menghasilkan uang sendiri untuk biaya hidup, biaya kuliah, dan biaya-biaya lainnya. Karena aku adalah mahasiswa rantau. Yang datang dari sebuah keluarga sederhana, di sebuah kampung kecil di pelosok Jawa Barat, namun memiliki tekad dan semangat untuk menggapai pendidikan setinggi yang aku tahu. Maka dengan kondisi itulah, sepanjang masa kuliahku, tidak seratus persen kuhabiskan dengan belajar. Tapi sebagian waktunya aku habiskan dengan bekerja mencari penghasilan tambahan. Karena aku pikir, dengan aku mengambil pekerjaan sebelum aku lulus, hal ini bukan hanya akan menyelamatkan kondisi keuanganku, tapi juga akan menjadi bekal pengalaman untuk perjalanan karirku kelak. Maka ketika ada tawaran pekerjaan datang kepadaku saat itu, tanpa pikir panjang lagi aku ambil dengan senang hati. Tak peduli bagaimana kelanjutan skripsiku, tak peduli dengan nasib kuliahku. Bahkan dosen pembimbing yang cerewet itupun tak lagi aku hiraukan. Dan keputusan itu jugalah, yang telah membawaku ke tempat ini sekarang, di sebuah kota kecil di ujung Nusa Tenggara Timur, bernama Labuan Bajo.

Sebenarnya aku dikontrak oleh perusahaan asing yang berasal dari Australia, yang tengah menjalankan program bantuan untuk pemerintah Indonesia, berupa pembangunan fasilitas sosial khususnya untuk masyarakat di seluruh Nusa Tenggara Timur (NTT). Maka, aku sebagai sumber daya manusia yang memiliki kapasitas di bidang ilmu kearsitekturan, kemudian direkrut sebagai tenaga ahli yang kemudian diberikan tugas untuk mensurvey dan melakukan kajian lapangan dari lokasi-lokasi di mana program itu akan dilaksanakan.

Kantor pusat kami berada di ibu kota Propinsi NTT, yaitu Kupang. Akan tetapi saat ini aku tengah ditugaskan untuk meninjau beberapa lokasi yang tersebar di seluruh pelosok Pulau Flores. Mulai dari Flores Timur, hingga Flores Barat.

***

Mobil yang membawaku melaju cukup kencang. Mungkin karena kondisi lalu lintas di sini tak begitu ramai sepertihalnya di kota-kota besar di Pulau Jawa. Sementara pria yang tadi bersamaku kini tengah duduk di belakang kemudi. Namanya adalah Lambertus, tapi lebih akrab dipanggil Om Bertus. Dia berasal dari Maumere, yang kini berubah nama menjadi Nelle, yang menjadi ibu kota dari Kabupaten Sikka, Flores Timur, NTT.

Om Bertus sehari-harinya bekerja sebagai supir lepas, khusus untuk tamu-tamu dari luar daerah, baik dalam rangka dinas, ataupun kunjungan wisata.

Kepribadiannya yang unik, ramah, jujur, dan cekatan, telah menjadikan dia sebagai driver pavorit bagi siapapun yang pernah memakai jasanya. Maka tak heran kalau kantorku telah menjadi langganannya setiap mereka mengirimkan orang untuk berdinas di pulau ini. Bahkan bagiku, Lambertus lebih dari hanya sekedar driver ataupun guide, melainkan sebagai teman yang akan setia menemaniku dan mengantarkan aku ke tempat-tempat manapun yang aku inginkan. Bahkan tanpa aku minta, dia tak segan untuk membantu tugas-tugasku selama di lapangan. Setidaknya itulah yang aku rasakan selama beberapa hari bertugas bersamanya di sini.

***.

Tak sampai sepuluh menit kami melaju, Lambertus menghentikan mobilnya tepat di halaman parkir sebuah rumah makan khas Nasi Padang. Sepertinya Lambertus sudah mengenal baik seleraku, sehingga dia tak lagi bertanya aku mau makan apa. Karena pada faktanya, Nasi Padang adalah salah satu makanan pavoritku.

Maklum, selama di Bandung, aku adalah seorang mahasiswa rantau yang memiliki uang saku pas-pasan. Dan ketika rasa lapar melanda, maka Warteg dan Nasi Padang, adalah menu makanan yang paling ideal untuk isi dompetku. Selain karena harganya terjangkau, rasanya pas di lidah, porsinyapun cukup untuk bisa memuaskan isi perutku. Dan rupanya kebiasaan itu masih terbawa olehku hingga ke tempat ini. Tak peduli seberapa tebal isi dompetku sekarang, tapi soal selera, memang tidak pernah bisa ditawar.

***

Tak butuh waktu lebih dari satu jam untuk kami menghabiskan menu makan siang itu. Namun karena jam di tanganku masih menunjukan angka 12 lewat 40 menit, maka akupun tak berniat untuk segera melanjutkan perjalanan. Mengingat ini masih jam istirahat, maka percuma aku datang ke sana, karena merekapun pasti sedang istirahat, dan kedatanganku pasti akan mengganggunya. Maka aku putusakan untuk istirahat sejenak di rumah makan itu, sambil menikmati segelas es teh manis, diiringi alunan musik berirama reggae, khas keseharian masyarakat Flores.

Namun saat aku mulai terhanyut dalam irama musik itu, tiba-tiba suara handphone pollyphonic milikku berdering, seakan memaksaku untuk mengalihkan pendengaran ke arahnya.

“Yak pak?” Sapaku menjawab suara seorang lelaki di ujung telepon, yang tak lain adalah suara Pak Haryanto, yang biasa kami panggil Pak Har, seorang Team Leader, atau pimpinan tim kami.

“Rakha, kamu harus kembali ke kantor hari ini juga! Besok pagi-pagi sekali kita ada meeting dadakan, semua dokumen hasil survey harus dipresentasikan!”

“Waduh, maksudnya hari ini sekarang? Kenapa mendadak?”

“Iya Saya juga gak tahu ini, tiba-tiba Mr. Collins besok mau pergi ke Australia. Beliau harus bawa data untuk dipresentasikan di sana. Makanya sebelum berangkat, beliau ingin mengadakan meeting dulu dengan tim kita.”

Aku sedikit mengerutkan dahi.

“Makanya Saya minta semua tim kumpul. Dan saya butuh dokumentasi hasil survey semua lokasi. Maaf banget sebelumnya.” Sambung Pak Har dengan nada sedikit tergesa-gesa.

“Kenapa gak via email saja pak? Nanti saya kirim segera. Lagian hari ini saya baru selesai satu lokasi di Manggarai Barat ini, masih ada tiga lokasi yang belum saya survey.”

“Lah terus nanti yang menjelaskan siapa? Kan cuma kamu yang tahu kondisi lapangan. Soal lokasi yang belum disurvey, nanti saja menyusul kamu ke sana lagi besok atau lusa gitu.”

“Tapi dadakan begini gimana caranya? Nanti saya cek jadwal pesawat dulu, mudah-mudahan masih bisa pesen tiket untuk sore ini.” Jawabku sambil memberi isyarat kepada Lambertus yang sedari tadi duduk di depanku, untuk segera pergi mengambil laptop yang tersimpan di dalam mobil.

“Tidak usah, tiket kamu sudah disiapkan dari tadi pagi sama Bu Yohana, kamu sekarang buka email, itinerary sudah dikirim.” Ucap Pak Har sedikit menyebutkan nama Bu Yohana, salah seorang staff admin di kantor kami. "Maaf banget ya, saya baru sempet ngasih tahu, saya pikir Bu Yohana sudah kontak kamu tadi pagi." Lanjutnya.

“Ya sudah kalau begitu saya check email dulu, Pak.” Jawabku kemudian mengakhiri pembicaraan.

Sesaat kemudian Lambertus kembali dengan menjinjing sebuah laptop berwarna silver, yang merupakan salah satu fasilitas dari kantor kami untuk membantu tugas-tugasku. Maka tanpa menunggu waktu, aku bergegas membukanya dan memeriksa email melalui koneksi modem yang memang satu paket dengan laptopnya. Dan memang benar, dalam inbox terdapat satu pesan berisi itinerary tiket dari maskapai Luxe Air atas nama Rakha Mahareksa. Dan begitu terkejutnya aku ketika aku melihat jadwal departure yang tertera di itinerary itu adalah pukul 14:35 WITA. Bagaimana tidak, jarum jam di tanganku saat itu menunjukan angka 12 lewat 55 menit. Yang artinya, aku hanya mempunyai waktu kurang dari dua jam, atau 1 jam 40 menit lebih tepatnya. Apakah mungkin aku bisa mengejarnya?

“Kita harus berangkat sekarangkah, Bapak?” Tanya Lambertus yang sepertinya sudah mengerti apa yang sedang terjadi.

"Kita langsung ke hotel, Om. Packing sebentar lalu lanjut ke bandara." Jawabku seraya mematikan laptop dan menutupnya, lalu kuserahkan kepadanya untuk dibawa pergi lebih dulu ke mobil, sementara aku menyelesaikan pembayaran di kasir.

***

Dalam perjalanan menuju hotel, aku coba menghubungi pihak Batu Cermin, dan memberi kabar perihal perubahan jadwal kunjungan. Dan meskipun mereka menerima, tapi aku pribadi masih saja merasa kesal dengan perubahan jadwal yang tiba-tiba ini. Apalagi dengan waktu yang teramat sangat mepet, jelas membuat aku merasa repot sendiri.

Sesampainya di hotel, segera aku menuju ke kamar untuk berkemas. Sementara Lambertus kuminta untuk menunggu di halaman parkir.

"Sudah check out kah?" Tanya Lambertuss yang mungkin merasa heran karena aku kembali begitu cepat.

"Saya gak check out, Om. Soalnya besok juga saya kembali ke sini. Jadi nanti kamarnya om tempatin dulu." Jawabku.

"Oh baik, Bapak." Ucapnya seraya menghidupkan mesin mobil.

Di sepanjang perjalanan menuju bandara, Lambertus hanya tersenyum kecil melihat raut mukaku yang mulai menunjukan rasa cemas. Pasalnya aku takut kalau counter check in sudah tutup begitu aku tiba di sana.

"Tenang, Bapak. Pakai pesawat Luxe Air kah? Pesawatnya pasti delay, jadi bapak tidak akan tertinggal." Kata Lambertus mencoba menenangkan aku.

Akupun hanya bisa tertawa mendengar celotehannya.

Dan tak lebih dari setengah jam waktu yang diperlukan Lambertus untuk memacu mobilnya dari area Pelabuhan Labuan Bajo ke Bandara Komodo. Kulihat jam ditanganku menunjukan angka 1 lewat 50 menit. Dengan perasaan cemas, akupun bergegas menuju security check point, lalu setengah berlari menuju area check in Luxe Air, dengan harapan counter check in itu belum ditutup. Dan sesampainya di sana, harapanku terkabul, bahwa counter check in masih dibuka, dan aku tak melihat ada antrian sama sekali, mungkin karena ini last minutes, jadi semua penumpang sudah berada di waitig room, atau memang hanya aku satu-satunya orang yang hendak pergi ke Kupang hari itu. Yang jelas, dengan tidak adanya antrian, aku pun bisa dengan singkat menyelesaikan proses check in, lalu segera melangkahkan kaki menuju area tunggu keberangkatan.

Di waiting room aku melihat beberapa calon penumpang yang sama arah denganku, meskipun tidak terlalu banyak, mungkin hanya belasan saja, itupun sudah termasuk aku dan satu anak kecil yang sedang duduk bersama ibunya. Barulah aku tahu kalau aku bukan penumpang satu-satunya, melainkan penumpang terakhir.

Akupun duduk di salah satu kursi yang masih kosong, tepat di samping jendela yang terpajang tinggi menggantikan dinding bandara yang belum terlalu megah sepertihalnya bandara-bandara di Pulau Jawa. Namun aku masih bisa dengan leluasa melihat ke area runway dan memperhatikan pesawat-pesawat yang sedang take off ataupun landing di bandara Komodo pada hari itu. Sesekali aku ajak ngobrol seorang bapak yang duduk persis di depanku. Yang ternyata beliau hendak pergi ke Ende. Dan memang, pesawat yang akan aku tumpangi ini tidak direct ke Kupang, melainkan akan transit dulu di Ende, salah satu kabupaten di Flores bagian tengah, persisnya sebelah barat Kabupaten Sikka, tempat kelahiran Lambertus.

Sudah setengah jam aku duduk di sana, namun pesawatku masih belum juga terlihat tanda-tanda kedatangannya. Padahal, jam di tanganku sudah menunjukan pukul 2 lewat 45 menit. Yang artinya, sudah 10 menit melewati waktu keberangkatan yang tertera di boarding pass. Meski dalam hati sedikit kesal, masalahnya karena aku yang sudah terengah-engah agar tidak tertinggal oleh pesawat ini, sementara pesawatnya sendiri masih jauh di belakang sana. Namun aku mencoba untuk tetap menerima kenyataan, sambil tersenyum kecil, mengingat celotehan Lambertus di mobil tadi, kini menjadi kenyataan, bahwa pesawatku delay. Ya sudahlah.

Jam di tanganku sudah melewati angka tiga, namun pesawat yang kami tunggu belum juga tiba. Akupun sempat berpikir, andai pesawatku baru akan tiba jam setengah 4 nanti, lalu proses menurunkan dan menaikkan penumpang di sini bisa memakan waktu 25 menit, sampai 30 menit. Yang artinya, kami yang dari Labuan Bajo bisa jadi baru diberangkatkan pukul 16:00 WITA. Lalu masalah akan muncul di bandara Hasan Aroeboesman, Ende. Dengan waktu tempuh pesawat dari Labuan Bajo menuju Ende adalah 45 menit. Jika ditambah waktu transit di sana selama 25 menit, maka totalnya menjadi 70 menit. Yang artinya pesawat kami baru akan kembali take off dari Ende pada pukul 17:10 WITA. Sementara batas jam operasional bandara di Ende adalah sampai pukul 17:00 WITA. Itu artinya, jadwal take off pesawat kami akan melawati batas, dan pihak otoritas bandara di sana tentu tidak akan mengizinkan pesawat manapun untuk tinggal landas melebihi jam operasional mereka. Meskipun kadang pihak bandara pasti akan memberikan dispensasi waktu kurang lebih 30 menit, namun semua itu bukanlah jaminan. Sehingga apabila hal itu terjadi, maka baik penumpang, ataupun crew sendiri sudah pasti akan RON (menginap) di Ende, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Kupang keesokan harinya.

Dan jika itu sampai terjadi, meskipun semua penumpang mendapatkan kompensasi berupa uang dan penginapan gratis dari maskapai, namun tentunya hal seperti itu adalah sesuatu yang paling tidak diinginkan oleh semua pihak, baik penumpang, ataupun crew.

Namun beruntunglah, di tengah lamunanku, tiba-tiba telingaku menangkap suara gemuruh mesin pesawat dari arah runway. Lalu dengan penuh harap, kupalingkan wajah ke arah jendela, maka tampaklah di mataku, sebuah pesawat mungil dengan dua baling-baling di sayap kiri dan kanannya, tengah melaju untuk kemudian memperlambat kecepatannya. Dan tampak jelas kulihat di bagian ekor pesawat itu, terpampang sebuah logo berbentuk sayap melingkar berwarna merah, lengkap dengan tulisan 'LUXE' di sisi badannya. Dan ya, aku bisa memastikan 100% kalau itu adalah pesawatku. Akupun tersenyum lega.

***

Selang beberapa menit setelah semua penumpang tujuan Labuan Bajo diturunkan dari pesawat, barulah aku dengar sebuah nada yang ditunggu-tunggu. Boarding call announcement mulai memanggil nomor penerbanganku. Pertanda aku dan beberapa penumpang lainnya harus segera boarding dan bergegas pergi untuk lepas landas.

Meski semua kurasa akan baik-baik saja, namun jika mengingat kejadian hari ini, pikiranku sebenarnya masih belum sepenuhnya menerima. Bagaimana tidak, dua jam yang lalu tak ada sedikitpun terlintas di benakku, bahwa hari ini aku akan berada di sini. Namun kenyataan memang berkata lain, bahwa sadar atau tidak, detik ini kenyataannya aku sedang berada di sebuah lapangan beton di mana seonggok pesawat tengah menanti di hadapanku. Meskipun pada akhirnya, aku harus mengakui, justru dari ketidakterdugaan inilah, yang akan menjadi awal dari segalanya. Awal dari kisah ini. Awal dari perjalanan ini. Awal dari sebuah kebahagiaan, juga awal dari segala penderitaan. Sepertinya.

***
Bersambung ke : Part 2