CHAPTER 1 - Part 2 (Rakha)

Akhirnya aku bisa duduk dengan lega, di sebuah kursi di baris kelima dari belakang, tepat di samping jendela sebelah kanan. Sementara beberapa kursi bagian depan dan tengah telah terisi penumpang. Karena memang pesawat ini hanyalah transit di Bandara Komodo, maka sebagian penumpang yang asalnya entah aku tak tahu dari mana, telah berada di dalam pesawat ini dari sebelumnya untuk melanjutkan perjalanan ke Ende, ataupun ke Kota Kupang.

Pesawat yang akan membawaku ini adalah jenis ATR 72-500, yang merupakan pengembangan dari type ATR-42, dengan desain lambung lebih panjang sekitar 4,5 meter dari pendahulunya itu. Pesawat yang berasal dari perusahaan patungan Prancis-Italia ini digerakkan dengan mesin twin-turboprop, sehingga akan tampak dua buah Propellers (baling-baling) yang masing-masing terpasang di sayap kiri dan kanan pesawat, yang akan menjadi pemandangan istimewa apabila kita melihatnya melalui kaca jendela saat baling-baling itu berputar menerjang hamparan awan di langit.

ATR 72-500 tergolong pesawat komersial jarak pendek, dengan ketinggian jelajah maksimal 25.000 kaki (7.600 mdpl), yang meskipun pada praktiknya, pesawat ini lebih sering terbang rendah, yaitu di antara 10.000-15.000 kaki, dengan keceptan maksimal hanya 300 knots, atau setara dengan 555km/jam. Akan tetapi, karena pengoperasioannya hanya untuk rute-rute pendek, maka ATR 72-500 inipun sepertinya sudah lebih dari cukup. Bahkan kapasitas penumpangnyapun maksimal hanya 72 orang saja, dengan menggunakan susunan kursi 2 kiri - 2 kanan. Dan entah kenapa, sore itu Luxe Air tujuan Ende-Kupang tampak lengang. Dari 72 kursi yang tersedia, tidak semuanya terisi. Terbukti dengan kursi di sebelahku yang masih kosong, bahkan empat baris kursi di belakangku juga kosong. Dan yang unik dari pesawat mungil ini adalah soal pintu masuk khusus penumpang yang hanya satu, yaitu di bagian belakang saja. Sementara pintu bagian depan dipakai untuk bagasi. Berbeda dengan pesawat Boeing-737 yang secara kapasitaspun lebih besar, sehingga kedua pintu depan dan belakangnya bisa difungsikan untuk penumpang.

Luxe Air ini adalah salah satu adik perusahaan dari Crown Air, salah satu maskapai swasta terbesar di Indonesia, yang merajai hampir semua rute domestik di seluruh pelosok Nusantara. Yang telah menjadikannya sebagai maskapai Low Cost Carrier paling banyak diminati oleh masyarakat kelas menengah. Hanya saja disayangkan, nama besar maskapai ini harus ternodai dengan penilaian negatif dari para penumpangnya, yaitu bahwa maskapai Luxe Air dan kakaknya itu sering mengalami keterlambatan. Entah benar atau tidak, yang jelas, meskipun maskapai ini terkenal dengan keterlambatannya, akan tetapi dari tahun ke tahun, jumlah peminat dari maskapai ini terus saja bertambah.

Kadang aku pernah berdebat dengan beberapa temanku yang kerap mengeluh dan menyudutkan maskapai ini. Dengan tanpa maksud membela pihak manapun, aku hanya mencoba menjelaskan kalau harga akan selalu berbanding lurus dengan kualitas. Malah, pesawat kelas premium sekalipun, kalau sedang terjadi masalah, pasti delay juga. Apalagi ini, yang secara manajemen jelas berbeda. Maka standarisasinyapun akan berbeda. Dan aku katakan kepada mereka, kalau memang benci dengan maskapai ini karena sering membuat delay, kenapa tidak menggunakan maskapai lain yang lebih mereka percaya. Akan tetapi jawaban mereka selalu sama, yaitu karena hanya Crown Air dan atau Luxe Air lah yang memiliki rute ke daerahnya. Sehingga mau tidak mau, mereka tetap menggunakan jasa maskapai yang kerap mereka caci maki ketika kata delay itu menghampiri. Ironis sekali memang. Entah apakah itu alasan sebenarnya, atau hanya pembenaran dari ketidakmampuan mereka untuk membeli tiket pesawat premium. Apapun itu, aku tak peduli. Karena setiap orang punya pilihan masing-masing. Yang bodoh adalah mereka yang kerap menyalahkan pilihannya sendiri.

***

Sambil menunggu waktu take off, kucoba membaca beberapa artikel dari flight magazine yang sedari tadi terselip dalam seat backs di depanku. Namun tak lama kemudian, tiba-tiba aku dikagetkan dengan hadirnya dua orang yang tergesa-gesa dari arah belakangku. Sepertinya mereka adalah dua penumpang yang baru masuk, terdiri dari dua orang ibu-ibu setengah baya, lengkap dengan berbagai bawaan mereka. Dengan wajah bingung, panik, dihiasi lelehan air keringat yang membias di wajah mereka, keduanya lalu berhenti persis di samping barisan kursiku, dengan tatap mata yang terfokus ke atas headrack (bagasi kabin), seakan mengisyaratkan bahwa mereka adalah penumpang paling terakhir yang hampir tertinggal, dan sedang bingung mencari nomor tempat duduk di dalam pesawat ini. Walaupun agak aneh juga, padahal pesawat sudah delay hampir satu jam, tapi kenapa masih ada penumpang yang lebih delay tapi masih diizinkan untuk check in. Atau mungkin sebenarnya mereka sudah berada di waiting room, namun karena satu dan lain hal, akhirnya mereka tertinggal. Dan aku sedikit mengingat, bahwa di awal aku masuk ke ruang tunggu itu, aku memang sempat melihat kedua ibu ini memang sudah ada di sana sebelumnya. Tapi ya sudahlah, yang penting semua penumpang sudah lengkap.

“Silahkan, Bu. Pilih kursi mana saja yang kosong. Pesawat sudah mau take off!” Kata seorang pramugari yang berdiri di bagian depan. Akan tetapi, kedua penumpang itu seakan tak menghiraukannya, dan tetap fokus memperhatikan tulisan pada boarding pass di tangannya. Hingga akhirnya pramugari yang berada di depan itu bergerak menghampiri mereka.

“Waduh maaf, Mbak, ini tadi adik saya kelamaan di toilet, jadi gak kedengeran suara panggilannya.” Kata salah satu penumpang itu mencoba beralasan.

“Sudah, Bu. Tidak apa-apa. Simpan saja barangnya, duduk di kursi yang kosong mana saja.” Jawab si pramugari dengan ramah.

"Ya udah, Mbak, ini tolong nanti angkatin ke atas ya."

"Baik bu." Jawab si pramugari seraya mencoba untuk tetap tersenyum.

Kedua penumpang itupun segera bergegas menuju baris kursi di bagian depan untuk kemudian duduk begitu saja tanpa merasa berdosa, meninggalkan seabrek barang bersama seorang pramugari yang wajahnya mulai menunjukan rasa kesal.

Beberapa saat pramugari itu tampak memalingkan wajah ke arah belakang, seakan berharap adanya bala bantuan dari rekannya. Akan tetapi pramugari satunyapun sepertinya tengah sibuk menyapa penumpang melalui cabin announcement.

Akhirnya, dengan wajah pasrah, pramugari itupun mulai mengangkat satu demi satu barang di depannya, dan memasukkannya ke dalam headrack yang berada di seberang kursiku.

Jika pada maskapai Crown Air yang mayoritas menggunakan pesawat jenis Boeing-737, biasanya memiliki konfigurasi crew sebanyak 6-7 orang yang terdiri dari 2 Cockpit Crew (1 Pilot, 1 FO), dan 4-5 Cabin Crew, yang mana salah satu diantara Cabin Crew tersebut akan bertindak sebagai Senior Cabin atau sering juga disebut sebagai Flight Attendant One (FA1). Sedangkan pada pesawat jenis ATR 72-500 ini didesain lebih minimalis, dengan hanya menggunakan standar konfigurasi crew yang berjumlah 4 orang saja, yang terdiri dari 2 Cockpit Crew (1 Pilot, 1 FO), dan 2 Cabin Crew, yang salah satu diantaranya akan bertindak sebagai Senior Cabin. Sehingga Luxe Air yang notabene menggunakan ATR 72-500 ini hanya memiliki dua pramugari saja. Yang salah satunya kini sedang sibuk mengoceh melalui cabin announcement, sementara pramugari satunya lagi tengah sibuk dengan urusan bagasi.

Dalam situasi seperti ini, jelas bukan hanya si pramugari itu saja yang akan merasa kesal, tapi aku yang kebetulan berada di sana dan melihat persis kelakuan kedua penumpang itu, juga cukup dibuat jengkel. Andai saja kedua penumpang itu bukan perempuan dan bukan ibu-ibu, sudah pasti aku teriaki dan aku maki-maki untuk membereskan tasnya sendiri. Wajar saja maskapai ini sering delay, karena ternyata penumpangnyapun kebanyakan bertindak sesuka hati.

Segera kubuka seatbelt di pinggangku, lalu berdiri dan mengangkat salah satu koper besar di dekatku, lalu memasukannya ke dalam headrack, diantara sebagian barang lainnya yang sudah masuk lebih dulu.

Pramugari itu tampak terkejut melihatku yang tiba-tiba ada di dekatnya. Tapi aku tak peduli apapun responnya. Aku hanya ingin semua cepat selesai, dan pesawat segera berangkat.

“Dasar perempuan, selalu saja bikin ribet!” Aku sedikit menggerutu. Hingga tak sadar kalau kata-kataku barusan mungkin saja akan membuat pramugari itu tersinggung, karena bagaimanapun dia juga seorang perempuan.

"Maaf, maksud saya, perempuan tadi." Kataku lagi berusaha meluruskan.

Namun sepertinya pramugari itu memang tidak terlalu memperdulikan aku. Dirinya tetap diam seraya terus menyibukkan tangannya di dalam headrack.

Melihat gelagat seperti itu, aku jadi merasa tidak enak hati. Sepertinya pramugari itu merasa tidak nyaman kalau ada orang lain di dekatnya. Maka setelah kupastikan semua barang telah berada di dalam headrack, akupun segera menutupnya dengan satu hentakan sekaligus.

“Awww!!!” Pramugari itu setengah menjerit.

Aku begitu terkejut mendengarnya. Dan... Oh Tuhan... ternyata jari tengah pramugari itu, persis di bagian kuku, terjepit pintu headrack yang tadi kuhentakkan dengan cukup keras.

Rupanya, pada detik-detik sebelum aku menutup headrack itu, aku tidak menyadari kalau tangan si pramugari masih berada di dalamnya, dan ketika si pramugari menyadari kalau aku akan menutupnya, lalu cepat-cepat dia keluarkan tangannya. Namun sayang, dia masih kalah cepat dari pergerakanku. Mungkin hanya telat per-sekian detik saja, sehingga sebagian jarinya belum sempat keluar semua, dan tertinggal lalu terjepit persis di bagian ujung jari tengahnya. Dan meski yang terjepit hanya di bagian ujung jari, tapi justru di ujung jari itulah terdapat berbagai syaraf dari organ tubuh manusia, sehingga Tuhan menciptakan kuku untuk melindunginya.

"Oh sial.... Maaf... maaf..." Aku sedikit panik.

"Nggak apa-apa, Mas..." Jawab si pramugari dengan nada datar, meski jelas sekali tampak di wajahnya, ekspresi rasa ngilu yang sedang berusaha ditutupinya.

Dalam situasi seperti itu, aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Hingga akhirnya aku beranikan diri untuk segera meraih tangannya, dan kuperiksa jari-jarinya. Aku sama sekali tak peduli, kalau aku akan dianggap lancang dan berujung dengan tamparan. Tidak ada lagi yang aku pikirkan saat itu, selain perasaan takut dan cemas, kalau-kalau terjadi luka serius di tangannya, dan semua itu gara-gara aku.

Beruntunglah, aku melihat tidak ada luka yang serius pada jari ataupun kuku putihnya itu.

“Kenapa, May?” Tanya si pramugari satunya yang tiba-tiba saja menghampiri kami, membuat aku refleks melepaskan tangan pramugari itu.

“Ini Mbak, tadi....” Pramugari itu mencoba menjelaskan kepada pramugari satunya, yang sepertinya adalah seniornya.

Tanpa banyak bicara, pramugari senior itu segera memeriksa headrack, dan memastikannya tertutup dengan sempurna.

“Ya sudah, Mas, segera kembali ke tempat duduk dan kenakan seatbelt-nya.” Kata si pramugari senior itu kepadaku. “Ayo, May, safety demo.” Lanjutnya lagi seraya kembali ke belakang, diikuti pramugari satunya untuk mengambil alat peraga, lalu kembali berjalan ke arah depan, melewatiku tanpa sepatah kata apapun, tanpa menoleh sedikitpun.

Akupun duduk di kursiku semula dengan perasan yang masih berkecamuk. Rasa malu, rasa bersalah, rasa menyesal, merasa hilang muka, serba salah, semua menggerogoti pikiranku. Sungguh tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Jika harus aku gambarkan, mungkin hanya dengan loncat dari pesawat inilah, maka aku akan merasa sedikit lega.

***
Bersambung ke : Part 3