CHAPTER 1 - Part 3 (Rakha)

Dulu aku pernah mengalami luka di bagian dalam kuku. Trauma kuku karena terjepit seperti itu dalam istilah medis disebut juga dengan Hematom Subungual. Biasanya karena terjadi pendarahan di dalam organ bawah kuku, yang disertai rasa nyeri. Sebenarnya kalau tak ada kerusakan tulang atau organ syaraf di dalamnya, tak perlu penanganan khusus, cukup hanya dengan mengkompresnya dengan es, lalu minum obat penghilang rasa nyeri. Maka setelah beberapa hari, luka itu akan sembuh perlahan dengan sendirinya. Namun jika luka dalam yang dialami cukup serius, maka kuku harus segera ditangani dokter ahli, untuk dicabut dan dikeluarkan darah kotornya. Yang tentunya kalau sampai hal ini terjadi, maka jelas kondisi itu akan merugikan dia yang berprofesi sebagai pramugari, yang menomorsatukan fisik dan penampilan dalam bertugas. Dan hal inilah yang membuat aku semakin merasa bersalah atas kecerobohan yang baru saja kulakukan kepadanya.

***

Pesawat masih dalam posisi taxi. Diiringi safety demo announcements dari seorang pramugari di belakang. Sementara di bagian depan, tampak satu orang pramugari lainnya tengah sibuk memperagakan Prosedur Keselamatan Penerbangan kepada penumpang, seperti biasanya. Namun sayang sekali, posisinya yang berada di ujung depan sehingga tak begitu jelas bisa aku lihat.

Entah apakah karena aku terlalu sering menggunakan pesawat sehingga bosan dengan peragaan seperti itu, atau mungkin karena pikiranku yang belum tenang, sehingga apa yang diperagakan pramugari itu dan apa yang diucapkan pramugari lainnya melalui pengeras suara di atasku tidak aku hiraukan, dan memilih untuk memalingkan pandangan ke arah jendela, meski dengan tatapan kosong.

“Mas, tolong seatbelt-nya dipake!” Kata pramugari itu yang kontan membuat aku terkejut dan tersadar bahwa safety demo telah selesai, dan aku belum mengenakan sabuk pengaman.

“Oh iya, maaf.” Jawabku dengan sedikit gugup. Pasalnya pramugari yang berkata barusan tak lain adalah dia, yang sedang bermasalah denganku.

Namun sepertinya pramugari itu tetap profesional, dan menganggap seakan-akan tak terjadi apa-apa sebelumnya, dan tetap memperlakukan aku sebagaimana penumpang pada umumnya. Aku pikir, ya sudahlah, aku bersyukur dan sedikit lega jika memang semua baik-baik saja. Mungkin aku hanya sedikit berlebihan menanggapi masalah itu. Maka setelahnya akupun mencoba untuk bersikap wajar dan semua kembali berjalan normal.

Akupun kembali menyandarkan kepalaku ke kursi seraya mengencangkan seat belt dan mulai memalingkan wajah menembus kaca jendela, memandang ujung sayap di atas kepalaku, yang gagah membentang, tengah berpacu untuk lepas landas meninggalkan daratan luas.

***

Jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku telah menunjukan angka 4 lewat 25 menit. Yang artinya sudah lebih dari setengah jam pesawat ini mengudara. Terdengar suara pramugari kembali berbicara melalui announcements untuk memberitahu bahwa pesawat sesaat lagi akan mendarat di bandara Hasan Aroeboesman, Ende, untuk transit menurunkan dan menaikkan penumpang yang hendak bergabung bersama kami ke Kupang.

Ketika pesawat sudah berhenti, beberapa penumpang tampak telah berdiri untuk bersiap keluar dari pesawat. Termasuk salah seorang bapak yang sempat aku ajak ngobrol di waiting room, dan ketika beliau melewati kursiku, beliau sepertinya masih mengenaliku, terbukti dengan anggukan kepalanya dan tersenyum ke arahku, sebagai salah satu isyarat berpamitan. Dan akupun membalas isyaratnya.

Beberapa menit kemudian, penumpang yang berasal dari Ende mulai berdatangan. Dan lumayan cukup banyak daripada penumpang dari Labuan Bajo. Bahkan dengan adanya tambahan penumpang dari Ende ini, sepertinya semua kursi hampir penuh. Setidaknya kini semua baris kursi sampai ke belakangku telah berpenghuni. Meskipun tetap masih menyisakan satu dua kursi yang kosong, termasuk kursi di sebelahku yang sepertinya masih belum mendapatkan tuannya.

Namun masalah kembali terjadi. Terdengar seorang bapak dari barisan tengah tiba-tiba menggerutu, dan menjadi pusat perhatian. Mungkin karena penasaran, akupun sedikit berdiri. Dan jelas aku lihat, seorang bapak yang belum terlalu tua, dengan wajah penuh kesal, tengah berdiskusi dengan seorang pramugari yang juga sebelumnya bermasalah denganku. Tampak juga diantara mereka, seorang ibu yang usianya sedikit lebih muda dari bapak itu.

"Harusnya kan tahu, kalo saya berdua sama istri saya!" Kata si bapak dengan setengah berteriak. Sementara si pramugari mencoba untuk menjelaskan.

Mendengar keributan itu, si pramugari senior yang sedari tadi sedang berada di belakang, berjalan menghampiri mereka.

"Maafkan kami sebelumnya, Bapak. Tapi apakah Bapak sudah konfirmasi ke petugas check in perihal permintaan tempat duduknya?" Tanya si pramugari senior itu.

"Sudah! Tapi kok malah dipisah!" Jawab si bapak dengan ketus. "Maskapai kamu ini emang ya, ngurus yang beginian aja gak becus!!" Tambahnya lagi masih dengan nada emosi.

"Sudahlah, Pih. Gak apa-apa." Ucap si ibu yang berada di dekatnya sedikit mencoba menenangkan si bapak, yang sepertinya adalah suamiya.

Sesaat aku melihat para penumpang lain yang sebagian menunjukan ekspresi kesal, bingung, namun ada juga yang tetap bersikap acuh. Akupun hanya bisa kembali duduk sambil menggelengkan kepala.

"Sebentar ya, Pak, kami coba cari kursi kosong di belakang." Ucap si pramugari senior mencoba menenangkan. Kemudian dirinya berjalan perlahan ke bagian belakang, memeriksa setiap barisan kursi, berharap masih ada dua kursi yang kosong bersebelahan.

Akan tetapi ketika pramugari itu sampai di barisan belakang, tampak raut bingung tersirat di wajahnya, karena dirinya tak menemukan apa yang dicarinya.

"Ada masalah apa ya, Mbak?" Tanyaku sedikit basa-basi.

"Oh anu, Mas, ada pasangan suami istri minta duduk bersebelahan." Jawab pramugari itu tanpa menolehkan wajahnya kepadaku, sementara matanya masih fokus memeriksa ke sekeliling, entah apa yang dipikirkannya.

"Mbak suruh si Bapak sama Ibu itu pindah ke tempat saya aja!" Kataku seraya membuka seat belt di pinggangku.

"Maaf tapi Masnya gak keberatan berpindah kursi?" Tanya si pramugari senior kepadaku.

"Cuma masalah duduk, Mbak. Saya gak mau pesawat ini delay. Kalau sampai ATC gak kasih kita take off gara-gara jam operasional, yang rugi kita semua." Jawabku seraya berdiri.

Pramugari itu tampak tersenyum lega, kemudian bergegas pergi menghampiri pasangan suami istri di depan, dan mempersilahkan mereka untuk duduk di barisan kursi yang sebelumnya kutempati.

"Makasih ya, Mas." Ucap si ibu itu kepadaku. Sementara suaminya langsung duduk tanpa sepatah katapun. Mungkin masih terbawa suasana emosi sebelumnya.

"Sama-sama, Bu." Jawabku dengan sedikit senyum, lalu akupun duduk di salah satu kursi kosong yang posisinya berada di tepi aisle (lorong kabin), karena memang semua kursi yang berada di sisi jendela sudah terisi.

Sementara si pramugari kemudian bergegas pergi ke galley belakang, dan pramugari satunya berjalan ke bagian depan, bersiap untuk memperagakan kembali safety demo.

Akhirnya proses boarding lengkap, pesawatpun kembali bergerak menuju runway diiringi safety demo yang kembali diperagakan oleh salah satu pramugari di bagian depan.

Meski kami take off dari Ende pukul 17:15 WITA, namun sesuai dugaanku, sepertinya pihak bandara memberikan dispensasi waktu, sehingga pesawat yang kami tumpangi mendapatkan izin untuk tinggal landas melanjutkan perjalanan menuju Kupang. Beruntunglah. Hingga beberapa menit setelahnya, kamipun sudah kembali di udara.

***

Biasanya, ada beberapa pesawat Luxe Air yang apabila melintasi Ende, akan mengajak penumpang berkeliling sejenak untuk melihat keindahan tiga danau yang konon airnya kerap berubah warna. Namanya adalah Danau Kelimutu, atau yang biasa dikenal dengan nama Danau Tiga Warna. Salah satu keajaiban pariwisata pulau Flores, yang gambarnya sempat menghiasi uang kertas pecahan seribu rupiah itu.

Sang pilot biasanya akan menerbangkan pesawat dengan memutari danau itu satu atau dua kali, sambil menjelaskan kepada penumpang melalui pengeras suara dari cockpit. Akan tetapi, mungkin karena hari itu sudah mulai gelap, dan pesawat dalam kondisi delay. Sepertinya pilot memutuskan untuk tidak melakukan atraksi tersebut. Dan memang merupakan suatu keputusan yang tepat sepertinya.

***

Pesawat type ATR 72 ini hanya memiliki dua jump seat(kursi pramugari) yang masing-masing terpisah. Satu berada di ujung lorong depan, satunya lagi di galley (dapur) belakang. Dan jelas aku lihat jump seat di bagian depan dalam kondisi kosong. Lalu rasa penasaran mulai memprovokasi pikiranku untuk mengalihkan pandang dan memeriksa ke bagian belakang. Maka tampaklah di mataku dua sosok pramugari sedang bercakap-cakap ringan. Meskipun hal seperti itu telah menjadi satu pemandangan yang biasa, namun yang tak biasa adalah, ketika salah satu diantaranya menunjukan gestur yang tidak nyaman seperti sedang menahan rasa sakit atau sebagainya. Seakan membantah semua asumsi sebelumnya, yang mengira bahwa dia baik-baik saja. Ternyata apa yang aku lihat saat ini sepertinya berkata lain. Mungkin selama ini dia berusaha untuk bersikap wajar di depan penumpang, seraya terus mencoba untuk menahan rasa sakit yang mulai terasa pada ujung jarinya.

Rasa kasihan, rasa bersalah, dan rasa khawatir, kembali berpesta di dalam pikiranku. Kadang ingin sekali aku menghampirinya, untuk meminta maaf sekali lagi, dan memastikan keadaannya baik-baik saja. Namun sepertinya rasa segan itu masih terlalu kokoh bertahta di dalam hati. Sehingga aku tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dan tetap memilih untuk berdiam diri.

***

Jam di tanganku menunjukkan pukul 6 lewat 2 menit. Langit tampaknya mulai temaram, meski di sebagian rongganya masih tersisa samar-samar cahaya senja yang tersemilir diantara sela-sela awan yang mulai menghitam. Sementara di bawahku, pemandangan Laut Sawu yang semula indah bak permadani, kini perlahan menjadi samar. Digantikan titik-titik kecil dari lampu nelayan yang sedang mencari peruntungan memanen ikan di hamparan samudera Indonesia yang kaya raya ini. Dan tampak jauh di tepian sana, kerlap-kerlip lampu kota Kupang mulai bermain manja laksana butiran bintang yang jatuh berserakan di muka bumi. Sungguh pemandangan yang menakjubkan, yang tak semua orang bisa menikmatinya setiap saat.

Di tengah lamunanku, tiba-tiba announcements kembali berbunyi. Terdengar suara seorang pramugari yang kemudian memberitahu kepada penumpang bahwa sesaat lagi pesawat akan mendarat di El Tari, dan meminta penumpang untuk bersiap.

Sementara di saat yang sama, seorang pramugari tampak berjalan melewatiku, melangkah tergesa dengan pandangan lurus ke depan, hendak kembali ke kursinya yang berada di ujung lorong sana.

Tak lama kemudian lampu kabin dimatikan, pertanda pesawat sudah menurunkan ketinggian dan bersiap untuk mendaratkan rodanya di atas runway El Tari.

***

Pemadaman lampu kabin pada saat pesawat take off atau landing adalah bagian dari prosedur keselamatan penerbangan. Dulu aku sempat mengira, dengan mematikan lampu kabin, sang pilot sedang menghemat energi yang tak terlalu penting, untuk difokuskan ke mesin penggerak pesawat agar pesawat memiliki tenaga lebih kuat. Akan tetapi nyatanya aspek teknis bukanlah alasan utama kenapa lampu kabin dipadamkan, melainkan lebih didasarkan kepada aspek psikologis dan aspek taktis. Karena menurut data statistik, kecelakaan pesawat lebih sering terjadi pada saat lepas landas (take off) dan mendarat (landing).

Dalam istilah medis, di dalam mata manusia terdapat yang namanya retina, dan di dalam retina itu terdapat dua macam sel reseptor yaitu sel konus (kerucut) dan sel bacillus (batang). Di dalam sel kerucut terdapat pigmen lembayung dan dalam sel batang terdapat pigmen ungu. Pigmen lembayung berfungsi untuk membedakan spektrum warna, sementara pigmen ungu berfungsi untuk menangkap perbedaan cahaya.

Pigmen ungu terdiri dari dua senyawa yang dinamakan Opsin dan Vit-A. Opsin adalah protein transmembran yang sensitif terhadap cahaya, yang terikat dengan Vit-A. Apabila pigmen ungu ini berada di area terang, maka kedua senyawa di dalamnya itu (Opsin dan Vit-A) akan terurai. Hal ini yang menyebabkan mata kita bisa dengan jelas melihat keadaan di tempat terang. Sementara apabila mata kita berada pada tempat gelap, pigmen ungu ini akan mengalami istilah Adaptasi Rodopsi, yaitu proses di mana kedua senyawa (Opsin dan Vit-A) yang sebelumnya terurai pada saat keadaan terang, untuk kembali bersatu. Hanya saja pembentukan kembali pigmen ini terjadi lebih lamban dibanding ketika mereka terurai. Maka dari itu, hal inilah yang menyebabkan mata menjadi buta sesaat ketika proses Opsin dan Vit-A sedang membentuk kembali menjadi suatu pigmen, karena proses pembentukkan itu membutuhkan waktu.

Begitu juga yang terjadi pada mata orang-orang yang sedang berada di dalam sebuah pesawat. Ketika mata mereka dibiasakan dengan pencahayaan, lalu hal darurat terjadi dan lampu tiba-tiba mati, Maka butuh beberapa waktu untuk mata bisa beradaptasi dengan kegelapan. Sedangkan dalam kondisi darurat, detik per detik waktu yang dimiliki oleh crew dan penumpang sangatlah berarti. Karena waktu ideal dalam proses evakuasi penumpang ketika hal darurat terjadi pada sebuah pesawat, adalah 90 detik atau hanya satu setengah menit saja. Dalam durasi yang begitu singkat itu, seluruh penumpang harus dipastikan bisa keluar pesawat dengan selamat.

Selain dari itu, dengan kondisi lampu kabin dipadamkan, maka lampu emergency penunjuk arah akan lebih jelas terlihat. Dan alasan kenapa pada saat take off dan landing juga jendela harus dibuka, alasannya hampir sama, yaitu agar mata penumpang dan crew terbiasa dan sudah bisa beradaptasi dengan cahaya dari luar pesawat.

Maka bisa dibayangkan andai lampu kabin tidak dipadamkan, lalu kondisi darurat terjadi, dan lampu tiba-tiba mati, Maka waktu dari 90 detik yang dimiliki akan terbuang percuma hanya karena menunggu mata beradaptasi. Atau lebih parah lagi, ketika kepanikan terjadi, sementara mata kita belum sepenuhnya bisa melihat dengan baik, maka bukan tidak mungkin selain akan mengganggu proses evakuasi, adalah hal yang lebih buruk bisa terjadi.

***

Sudah lebih dari lima menit sejak lampu kabin dipadamkan, tapi belum juga kurasakan getaran pertanda roda pesawat sudah menapakkan diri di atas bumi. Mungkin saja pesawat masih berputar di area langit bandara, karena sang pilot belum mendapatkan izin dari ATC (Air Traffic Control) untuk bisa mendarat dengan aman, atau mungkin juga sedang menunggu antrian, aku tidak tahu pasti. Meskipun sang Captain ataupun FOO (Flight Operation Officer) alias Co-Pilot biasanya memberitahu keadaan melalui announcements. Tapi malam itu aku tak mendengar penjelasan apapun, yang artinya pesawat ataupun runway di Bandara El Tari dalam keadaan baik-baik saja. Hanya masalah waktu.

Bosan menunggu kepastian kapan pesawat landing, tak sengaja aku alihkan pandangan ke arah depan. Dan meskipun lampu kabin telah dipadamkan, tapi karena cahaya langit di luar sana belum begitu gelap, maka remang cahayanya masih sedikit menerangi seisi kabin. Dan tampak di ujung lorong bagian depan sana, samar-samar aku lihat sosok pramugari sedang duduk termenung di sebuah jump seat, lengkap dengan shoulder harness yang melilit di tubuhnya. Kepalanya sedikit tertunduk, sementara kedua tangan tampak saling menggenggam di atas lahunannya.

Beberapa saat aku masih menahan pandanganku ke arah sosok pramugari cantik itu. Hingga kemudian secara tiba-tiba dia mengangkat kepalanya, dengan sorot mata yang tak sengaja langsung mengarah kepadaku yang saat itu masih dalam posisi memperhatikannya, membuat kami benar-benar saling beradu pandang.

Dalam momen seperti itu, kami merasa bahwa kami sama-sama dalam posisi terkunci. Detik demi detik yang berlalu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Sementara kami masih sama-sama terpaku, dalam kondisi saling menunggu siapa yang akan memalingkan wajah lebih dulu. Hingga akhirnya kursi yang aku duduki bergetar begitu hebat, pertanda roda pesawat telah mendarat, seketika menyelamatkan kami dari momen yang terasa sedikit absurd itu.

Bagaimanapun juga, aku adalah lelaki normal. Wajar ketika dihadapkan dengan kondisi begini, lalu muncul dalam pikiranku tentang rasa penasaran yang begitu kuat. Untuk ingin mengetahui sosok pramugari itu lebih jauh lagi. Siapa dia sebenarnya? Kenapa ada pramugari yang begitu lugunya, padahal dari sekian pengalaman perjalananku menggunakan pesawat dan bertemu banyak pramugari dari berbagai maskapai, mayoritas dari mereka selalu bersikap acuh, atau istilahnya ja’im kalau memang kata ‘judes’ terlalu kasar untuk diucapkan. Akan tetapi sepertinya pramugari yang satu ini beda dari yang lain. Aneh bin ajaib. Bahkan saat dia susah payah membereskan bagasi itu, sepertinya dia pramugari baru yang belum cekatan seperti senior-seniornya. Dan bila kuperhatikan gerak-gerik lainnya dari dia, aku bisa memastikan kalau dia memang orang baru, bahkan usianyapun kalau aku tebak mungkin baru 19 atau 20 tahun. Sehingga kultur ja’im seorang pramugari belum sepenuhnya menular dalam sikapnya. Dan hal inilah yang justru semakin membuat aku penasaran kepadanya.

Namun nyatanya semua itu hanyalah sebatas rasa penasaran. Sedangkan rasa segan masih meraja di dalam dada. Dikawal ketat angkuhnya rasa malu untuk berbuat lebih daripada sewajarnya. Dan masih tidak tahu apa yang harus aku lakukan setelahnya.


***
Bersambung ke : Part 4