CHAPTER 1 - Part 4 (Rakha)

Lampu kabin telah kembali menyala sedari tadi. Disusul para penumpang yang sudah mulai berdiri dan sibuk mengambil barang masing-masing. Tampak raut kekesalan terpancar dari sebagian penumpang saat itu, mungkin karena pesawat yang mengalami keterlambatan hampir dua jam.

Ketika pintu terbuka, satu persatu dari mereka melangkah perlahan dalam antrian untuk segera meninggalkan kabin pesawat. Tak terkecuali dengan dua perempuan 'pembawa masalah' itu, yang tampak sedang mengemas barang-barangnya, masih dengan wajah tanpa dosa. Sementara aku dan seorang pria paruh baya yang duduk di sisi jendela di sebelahku, masih tak beranjak sedikitpun, karena baris kursi yang kami tempati saat ini terhalangi oleh penumpang yang sedang mengantri. Dan ketika antrian sudah mengalir, akupun berdiri dan mempersilahkan penumpang di sebelahku itu untuk beranjak lebih dulu.

Hingga tak butuh waktu lama, sebagian besar penumpang sudah meninggalkan pesawat. Hanya tersisa satu atau dua penumpang saja, itupun sedang menunggu antrian pintu keluar. Dan ketika menyadari hal itu, akupun segera mengambil ranselku dari headrack, yang hanya berisi laptop, dokumen, dan beberapa helai pakaian. Lalu perlahan melangkah mengikuti satu penumpang yang masih mengantri di paling belakang.

Seraya berjalan perlahan dalam antrian itu, aku lihat di dekat pintu keluar, sedang berdiri dua orang pramugari yang tengah memberikan salam perpisahan kepada setiap penumpang yang melewatinya, seperti biasanya.

“Terima kasih sudah terbang bersama Luxe Air. Selamat malam...” Ucap salah satu pramugari itu kepadaku ketika aku melewati mereka

Saat itu aku merasa dihadapkan dengan dua pilihan. Antara membalas salam seperlunya, lalu pergi begitu saja meninggalkan mereka, dan melupakan semua momen yang pernah terjadi sebelumnya, lalu kembali ke kehidupan normal seperti sedia kala. Atau memanfaatkan momen ini untuk aku bisa menyatakan maaf untuk yang terakhir kalinya kepada pramugari berkuku memar itu, sebelum kami benar-benar berpisah. Dan apapun responnya nanti, setidaknya rasa bersalah yang sedari tadi mengganggu pikiranku, perlahan mungkin akan mereda.

Ya, last chance! Pikirku dalam hati. Hingga aku memberanikan diri untuk kemudian berhenti di depan mereka.

"Kalau kalian di sini punya es batu, atau kalau gak ada, air panas juga gak apa-apa, sebaiknya tangan si Mbaknya segera dikompres aja." Ucapku seraya menunjuk ke arah kuku si pramugari yang sudah berubah warna itu.

"Bukan mau bermaksud berlebihan, tapi luka di dalam kuku, kalau dibiarkan, sakitnya bisa berhari-hari, apalagi kita gak tahu apakah lukanya cuma pendarahan biasa, atau ada organ yang rusak di dalamnya. Itu bisa lebih serius lagi." Lanjutku tanpa mempedulikan respon keduanya. Hal itu memang aku lakukan semata-mata untuk menghilangkan rasa gugup yang sebenarnya aku rasakan.

Kedua pramugari itupun tampak sedikit terkejut ketika melihatku yang tiba-tiba berhenti dan berkata demikian di depan mereka.

"Tadinya saya hanya ingin mencoba membantu, tidak tahu kalau kejadiannya akan seperti ini. Sekali lagi saya mohon maaf." Ucapku lagi seraya menempelkan kedua telapak tangan di depan dadaku, sebagai isyarat perohonan maaf.

"Iya Mas, gak apa-apa." Jawabnya singkat, dengan sedikit senyum, meskipun ekspresi bingung masih nampak jelas di wajahnya.

Dan aku menyadari bahwa percakapan ini hanyalah formalitas belaka, maka akupun tak mau menyikapinya secara berlebihan.

Tanpa membalas dengan basa-basi apapun lagi, aku perlahan melanjutkan langkah menuju tangga pesawat untuk segera turun dan meninggalkannya.

“Mas...!!!”

Tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara seorang perempuan setengah berteriak ke arahku. Namun suaranya samar-samar karena kalah dengan suara mesin pesawat yang saat itu masih meraung-raung memekakan telinga. Sehingga aku berpikir kalau suara itu hanya khayalanku saja, maka aku tetap melanjutkan langkahku menuruni anak tangga pesawat itu.

“Sebentar...!!!”

Kudengar suara itu lagi, namun sepertinya kali ini suaranya lebih keras. Memaksa aku untuk akhirnya memalingkan wajah ke belakang.

Ternyata, si pramugari junior berkuku memar itu tampak masih berdiri tepat di pintu pesawat, dengan tatap mata yang jelas mengarah kepadaku. Sementara pramugari satunya sudah tak nampak lagi berada di sisinya.

Sebuah Tow Truck Trailer (kendaraan kecil yang biasa mengangkut bagasi di area bandara) melintas di belakangku, sehingga sorot lampunya sepintas menyinarinya, yang malam itu tampak begitu cantik dan mempesona. Tubuhnya yang anggun dibalut seragam berwarna merah, dilapis ikat pinggang berwarna hitam, lengkap dengan stocking hitam yang membalut seluruh kaki jenjangnya.

“Kenapa, Mbak?” Tanyaku seraya berusaha untuk bersikap normal dan menyembunyikan rasa kekagumanku saat itu.

“Maaf tadi saya belum sempat ngucapin makasih.” Jawab pramugari itu diiringi senyum tulus yang perlahan merekah dari bibir merahnya.

Tiba-tiba...

Dhuar!!!!

Aku seperti mendengar suara ledakan di mana-mana, layaknya pesta kembang api di malam tahun baru. Kontan saja aku langsung memperhatikan sekelilingku, mencari tahu ada kejadian apa. Namun sepertinya di sekelilingku tidak ada tanda-tanda apapun yang telah meledak. Baik itu bom, ataupun kembang api. Yang ada malah aku melihat beberapa kejanggalan yang terjadi. Entah kenapa mobil kecil pembawa bagasi yang lewat tadi tiba-tiba saja terhenti dan supirnya tiba-tiba tak bergerak seakan berubah menjadi benda mati. Bahkan bukan hanya itu, pesawat yang sedang melakukan take off di runway pun ikut berhenti dan berdiam diri mengambang di udara. Oh ternyata bukan cuma mobil dan pesawat itu yang tiba-tiba berubah menjadi patung. Tapi semua kehidupan tampak sedang mem-paus­e diri. Bahkan baling-baling pesawat yang sedari tadi masih berputar, seketika berhenti entah sejak kapan. Dan suara mesin pesawat yang tadi begitu bingar, kini tak lagi kudengar. Suasanapun menjadi hening seketika.

Sesekali kuarahkan pandangku ke atas langit yang tadinya gelap, tiba-tiba ribuan bintang muncul berkelip mesra, bahkan sebagian darinya turun dan menari-nari di sekelilingku. Dan yang lebih aneh lagi, tiba-tiba saja banyak kupu-kupu cantik yang terbang di area bandara ini, hingga membuat aku bingung, dari mana datangnya serangga cantik itu malam-malam begini?

“Mas? Kenapa bengong?” Tanya pramugari itu dengan wajah bingung, yang lantas membuyarkan semua imajinasiku. Membuyarkan kupu-kupu itu, Menyapu sirna cahaya bintang-bintang itu. Dan membuat pesawat yang tadi mengambang di udara, melanjutkan perjalanannya ke atas sana. Ditambah suara mesin pesawat di sampingku yang tiba-tiba berbunyi lagi mengagetkan aku.

“Oh, gak apa-apa.” Jawabku setengah berteriak. “Iya Mbak, sama-sama. Seharusnya saya yang minta maaf, sudah membuat tangan Mbaknya sakit begitu.”

“Oh gak apa-apa Mas, gak terlalu parah kok, besok lusa juga sembuh.”

“Syukurlah kalau begitu. Mudah-mudahan cepat sembuh ya, Mbak.”

“Iya Mas, semoga.” Jawabnya singkat.

Akupun hanya tersenyum mendengarnya.

“Woy! Buruan banyak kerjaan nih...!!” Teriak si pramugari senior dari dalam pesawat.

“Iya Mbak!” Jawabanya setengah berteriak.

"Ya sudah, Mbak, silahkan dilanjutkan tugasnya." Kataku setengah berpamitan.

“Oke, udah dulu ya, Mas, selamat malam!” Ucapnya kepadaku diakhiri dengan senyum cantiknya. Kemudian dia membalikan badannya hendak melangkah masuk ke dalam kabin.

"Mbak!" Aku sedikit berteriak. Hingga membuat dia berhenti dan memalingkan wajah kembali ke arahku.

"Jangan lupa dikompres!" Kataku lagi seraya mengacungkan jari tengahku kepadanya, yang dibalas dengan senyuman yang entah kenapa malam itu tampak begitu cantik terpajang dari bibir merahnya.

Pramugari itu kemudian melanjutkan langkahnya, bergerak ke dalam kabin menghampiri rekan pramugari yang sedang menunggunya di dalam. Sementara akupun melanjutkan langkah menuju terminal El Tari.

***
Bersambung ke : Part 5