CHAPTER 1 - Part 5 (Rakha)

"Taksi, Pak?" Tanya pria setengah baya mencoba menawarkan jasa kepadaku yang saat itu tengah berdiri sendirian di area penjemputan, persis di depan pintu kedatangan.

"Oh saya dijemput, Om." Jawabku seraya tersenyum, sambil terus memperhatikan wajah-wajah di sekelilingku, berharap salah satu dari mereka adalah supir kantorku yang malam itu telah aku minta menjemputku. Namun setelah beberapa menit berlalu, belum juga menunjukan batang hidungnya.

Tak mau menunggu lebih lama, segera kubuka handphone untuk mencoba menghubunginya. Namun ketika jari jemariku tengah sibuk mencari nomor kontak di phone book, tak jauh di sampingku tiba-tiba berdiri dua orang laki-laki gagah berseragam putih, dengan koper besar di sebelahnya.

Sementara di belakang nya, menyusul dua perempuan cantik berseragam merah, juga lengkap dengan koper hitam yang masing-masing mereka pegang di tangan kanan nya.

Dan diantara mereka, seorang lelaki berseragam security ikut menemani, lengkap dengan satu unit handy talkie yang terus berada di genggamannya.

Ya, aku tahu persis, kalau mereka adalah crew pesawat Luxe Air, yang tadi membawaku dari Labuan Bajo ke Kupang. Dan sepertinya merekapun sedang menunggu mobil jemputan.

"Oh kalian RON di Kupang?" Tanyaku tiba-tiba, yang tentu saja sedikit mengejutkan mereka.

Entah keberanian apa yang membuat aku nekat menghampiri mereka dan langsung bertanya seperti itu, padahal kami tidak saling mengenal. Dan bilapun aku akan dianggap sok kenal sok dekat, aku tak peduli.

"Iya, Mas!?" Jawab si pramugari junior dengan ekspresi bingung.

"Eh ini, Mas yang tadi ya?" Pramugari satunya balik bertanya.

"Iya Mbak." Jawabku seraya tersenyum.

"Siapa, Bro?" Tanya pria berseragam putih sedikit berbisik kepada pria satunya. Sementara aku lihat tanda pangkat 4 bar melekat di pundaknya, pertanda kalau dia adalah sang Captain.

Pria yang dipanggil 'Bro' itu hanya menggelengkan kepala. Dan kalau melihat pangkat di pundaknya yang hanya berjumlah 3 bar, sepertinya dia adalah Flight Operation Officer (FOO) atau lebih dikenal dengan istilah Co-Pilot.

"Oh, Mas ini tadi penumpang kita, Capt." Ucap si pramugari senior itu mencoba menjelaskan. Sementara sang Captain membalasnya dengan anggukan kepala, sedangkan si Co-Pilot tampak kembali sibuk dengan handphone nya, seakan tak peduli dengan apa yang terjadi di sana.

Akupun segera melontarkan senyum hormat kepada sang Captain, dan beliaupun membalasnya, meski dengan raut muka yang masih terheran-heran.

"Gak apa-apa sih, Mbak, Saya cuma masih kepikiran aja soal tangannya si Mbak." Ucapku sedikit mencairkan suasana.

"Oalah haha...gak apa-apa, Mas." Jawab si pramugari seraya tertawa.

"Loh emangnya tanganmu kenapa?" Tanya si Captain sedikit mengkerutkan dahi ke arah si pramugari.

"Ini lho, Capt..." Si pramugari senior kemudian menjelaskan kronologis accident yang menimpa juniornya itu.

"Wah? Hahaha nasibmu, Nak..." Ledek si Captain diselingi gelak tawa.

Menyadari suasana yang sudah semakin cair, membuat akupun semakin berani untuk berbicara lebih dari sekedarnya.

"Ngomong-ngomong malam ini Captain sama Mbaknya sibuk gak?" Aku sedikit berbasa-basi.

"Emang kenapa, Mas?" Tanya sang Captain seraya mengkerutkan dahi.

"Gak apa-apa sih, kalau kalian ada waktu, tadinya saya mau ajak kalian makan di Subasuka, yah itung-itung gantiin permintaan maaf saya." Aku sedikit menyebutkan salah satu nama restoran yang ada di kota Kupang. "Itupun kalau Captain dan Mbak nya bersedia." Tambahku lagi.

Sejenak mereka terdiam dan saling menatap.

"Subasuka? Oh yg di Pasir panjang bukan ya?" Tanya si Captain.

"Iya betul, Capt. Di sana seafodnya enak." Jawabku.

Sebenarnya akupun memang hanya sekedar basa-basi menawarkan itu kepada mereka. Karena aku yakin 100%, mereka akan menolak tawaran dinner dari orang yang baru saja mereka kenal, atau malah belum mereka kenal.

"Serius nih, Mas?" Si pramugari senior itu tampak sumringah. "Gimana, Capt?" Tanya dia lagi seraya menoleh ke wajah sang Captain.

"Mantep sih, tapi kayaknya gua gak bisa ikut, udah ada janji sama temen." Jawab si Captain. "Si Rio aja tuh, ajak." Ucapnya lagi seraya mengarahkan pandang kepada rekannya yang sedari tadi tengah sibuk dengan handphone nya.

"Apaan,Capt?" Tanya si Co-Pilot dengan ekspresi bingung.

"Ini ada yg traktir dinner, lu ikut gak?"

"Waduh sekarang? Gue gak bisa, ini udah janjian sama si cinta." Jawabnya lagi seraya menunjukan handphone sambil mengedip-ngedipkan mata.

"Yah..." Si pramugari tampak sedikit kecewa.

"Ya kalo gak bisa gak apa-apa, mungkin next time..." Aku mencoba untuk tidak memperumit masalah, karena memang awalnya akupun hanya basa-basi saja.

"Aduh, gimana ya, Mas, kalau Captain gak ikut..."

"Lah kenapa gua?" Sang Captain sedikit memotong. " Udah lu berdua aja, daripada lu pade nebeng terus makan sama gua, bisa tekor nanti." Lanjutnya lagi setengah bercanda.

"Ah Captain suka buka-buka aib ih...."

"Udah lu berdua pergi dah, tibang makan doank. Yang penting jangan lupa pulang!"

Kedua pramugari itu tampak terdiam, sesaat mereka saling menatap.

"Ya udah deh, Mas, oke..." Jawab si pramugari senior itu seraya tersenyum.

Sekarang giliran aku yang terperanjat bagai disengat jutaan volt litrik. Sungguh sama sekali aku tidak menyangka kalau kedua pramugari itu akan menerima tawaranku.

"Kalian serius nih, gak apa-apa cuma berdua?" Aku mencoba memastikan.

"Lho Mas nya serius gak nraktir kita nya?" Si Pramugari balik bertanya.

"Ngapain becanda? Kalau emang bisa, nanti jam 8 teng kita ketemu langsung di sana." Kataku mencoba meyakinkan keduanya. "Nanti begitu kalain tiba di sana, langsung aja ke Chapel, nanti saya tunggu kalian di tempat itu." Kataku lagi, sedikit menyebutkan nama sebuah bangunan yang menjadi icon restoran tersebut.

"Hm...oke..." Jawab si pramugari singkat.

Tak lama berselang, mobil jemputan merekapun datang dan berhenti persis di depan kami.

"Ya udah kita duluan ya, Mas." Ucap si pramugari senior itu, kemudian bergegas menuju mobilnya.

"Oke, Mbak, silahkan." Jawabku dengan sumringah.

Sementara si pramugari junior berkuku memar itu masih tak berucap sepatah katapun.

"Mas, nitip ya jangan diapa-apain kedua anak ini, aset negara!" Ucap si Captain setengah bercanda.

"Siap, Capt!" Jawabku seraya menempelkan tangan di kening, persis gerakan hormat para anggota militer.

Tak lama kemudian, mini bus yang mereka tumpangi bergerak perlahan meninggalkan area bandara.

“Mas Rakha!!” Teriak seorang lelaki yang berjalan tergesa menghampiriku. "Sory telat, kirain dellay nya masih lama, hahaha..." Ucapnya lagi sedikit bercanda, seakan tanpa dosa.

Pria itu adalah Bli Made, asalnya dari Bali, tetapi dua tahun lalu dia menikah dengan orang Kupang, dan tinggal di Kupang bersama istri dan seorang anak perempuannya yang baru berusia satu tahun. Hingga kemudian dia direkrut oleh kantor pusat untuk menjadi driver di sana. Dan tadi siang sebelumnya aku memang sudah menghubungi Bli Made ini untuk memintanya menjemputku di El Tari. Dan karena usianya hampir sama denganku, hanya terpaut 1 tahun lebih tua dariku, membuat kami lebih akrab layaknya seorang teman.

"Mampir dulu di janda mana tadi?" Aku membalas ledekan seraya menyodorkan ransel kepadanya.

"Hahaha..." Bli Made hanya tertawa terbahak.

Akupun ikut tertawa kecil, lalu bergegas ke arah mobil yang sedari tadi berada di area parkir.

"Mana oleh-olehnya?" Tanya dia lagi seakan menagih janji.

"Yah Bli, tadi saya sempat bawa satu ekor Komodo buat Bli, tapi lepas di jalan!" Jawabku setengah bercanda, yang langsung disambut kelakar tawa darinya.

***

Mobil kami melaju meninggalkan Bandara El Tari, bergerak kencang ke tengah kota Kupang. Menyusuri salah satu ruas jalan yang bernama Frans Seda. Nama tersebut diambil dari nama seorang tokoh politik, sekaligus tokoh agama yang berasal dari Nusa Tenggara Timur, yaitu Franciscus Xaverius Seda.

"Makan dulu atau langsung ke Mess?" Tanya Bli Made di sela-sela aktivitas menyetirnya.

"Langsung ke Mess aja, Bli" Jawabku. "Tapi nanti Bli tungguin bentar, saya mandi, terus anterin saya ke Subasuka."

"Ada acara apa di sana?" Tanya dia lagi.

"Saya ada janji makan malam, Bli"

"Wah, Sama siapa?"

"Sama pramugari di pesawat tadi Bli." Jawabku sedikit membanggakan diri.

Tiba-tiba Bli Made menghentakkan kakinya ke atas pedal rem dengan sekeras-kerasnya, yang membuat mobil berhenti seketika, yang langsung disambut dengan teriakan klakson mobil dari arah belakang. Bahkan saking tiba-tibanya, akupun hampir mencium dashbor mobil, andai saja seatbelt tidak menahan tubuhku.

"Serius?" Tanya Bli Made dengan wajah super terkejut.

Ya Tuhan. Aku pikir ada kecelakaan apa di jalan, hingga membuat Bli Made menghentikan mobilnya secara tiba-tiba begitu. Ternyata itu hanya ekspresi kekagetan dia, yang mendengar aku akan makan malam dengan pramugari. Dan akupun hanya bisa mengusap dada.

"Kompensasi delay." Jawabku setengah mencandai dia.

"Hahahaha...." Bli Made melepaskan tawa dengan sangat kencangnya. Begitupun aku yang akhirnya ikut tertawa melihat kelakuannya yang aneh itu.

Kamipun kembali melanjutkan perjalanan ke arah Mess, yang memang merupakan bagian dari fasilitas kantor untuk semua karyawannya yang berasal dari luar NTT.

***
Bersambung ke : Part 6 (End)