CHAPTER 1 - Part 6 (Rakha) - End

Setibanya di Mess, tak banyak waktu yang kubuang. Bahkan prosesi mandi yang biasanya menghabiskan waktu setengah jam atau lebih, saat itu sengaja aku persingkat. Dan begitu selesai berpakaian, aku bergegas menuju halaman parkir, setelah sebelumnya menyempatkan diri mengirim SMS kepada Pak Har, dan mengabarinya kalau malam ini aku sudah berada di Kupang.

***

Jarum jam di tanganku menunjukkan pukul 7 lewat 40 menit. Bli Made yang duduk di sebelahku, masih asyik dengan setir mobilnya, hendak mengantarkanku ke sebuah restoran di tepi pantai di ujung kota Kupang. Sementara alunan lagu Matahariku miliknya Nike Ardila, menggema di seisi kabin mobil, seakan menjadi backsound di perjalanan kami. Bahkan tak jarang mulutnya ikut bernyanyi mengikuti lirik lagu yang dinyanyikan dara cantik asal Bandung itu, yang sempat naik daun di era 90an, namun sayang dirinya harus meninggal di usia muda. Dan memang Bli Made ini salah satu penggemar berat almarhumah.

Sementara di depan mobil kami, tampak beberapa Bemo tengah melaju pelan, lengkap dengan atribut lampu berwarna-warni yang menghiasi kendaraan tersebut. Sesekali juga Bemo itu berhenti untuk menaikkan atau menurunkan penumpang. Dan ya, kalau di Jawa, transportasi publik itu dinamakan Angkot. Sementara di sini, masyarakat menyebutnya dengan nama Bemo. Tapi kalau aku sendiri punya sebutan lain untuk mobil itu, yaitu 'Diskotik Berjalan'. Karena hampir semua Bemo atau Angkot di kota Kupang ini dengan sengaja memasang beraneka lampu, yang kalau malam akan berkelap-kelip hampir di seluruh bagian body mobilnya, sementara di dalamnya akan terdengar hingar bingar musik yang sengaja dipasang oleh para supir Bemo untuk menghibur penumpang. Bahkan saking kencangnya suara musik di dalam Bemo itu, kadang kita sebagai penumpang harus berteriak lebih kencang apabila ingin meminta sang supir untuk berhenti.

Keunikan yang terjadi pada Bemo ini sepertinya dilandasi oleh budaya setempat. Di mana masyarakat NTT, khususnya di Kupang yang menjadi Ibu Kotanya, mayoritas menyukai pesta dan musik. Maka tak heran kalau kegemaran masyarakat itu dituangkan ke dalam transportasi publik kebanggan mereka. Bahkan menurut cerita salah satu supir Bemo, andai Bemo yang dibawanya tidak ada lampu, atau bahkan musik, maka harus siap-siap sepi penumpang. Sungguh keunikan yang belum pernah aku temui di kota lainnya di Indonesia.

***

"Mas, saya jemput anak istri dulu ya, mereka lagi di rumah saudara." Kata Bli Made ketika kami tiba di halaman parkir Subasuka. "Nanti kalau Mas Rakha sudah selesai, telpon saya, biar saya jemput lagi." Tambahnya.

"Oke Bli!" Jawabku seraya membuka pintu dan bergegas ke luar.

Bli Made kemudian memutar mobilnya dan kembali ke jalan. Sementara aku segera masuk ke area restoran, dan langsung berjalan ke arah chapel, tempat yang telah disepakati sebagai titik pertemuan kami.

***

Jam 8 kurang 5 menit, setidaknya itulah yang ditunjukan oleh jarum jam di tanganku. Yang artinya aku datang 5 menit lebih cepat dari yang dijanjikan. Tapi memang itu tujuanku. Lebih baik aku menunggu, daripada harus datang terlambat, yang bisa jadi mengecewakan mereka. Dan juga, semakin cepat kami tiba di sini, akan semakin banyak waktu yang bisa kami habiskan. Mengingat Subasuka Paradise ini hanya buka sampai jam 10 malam.

Sambil menunggu kedatangan mereka, akupun berjalan-jalan sejenak di depan chapel berwarna putih itu. Lokasinya persis di tepi pantai. Bangunannya berbentuk prisma segitiga, atau menyerupai bentuk dasar tenda pramuka. Dengan desain minimalis yang mengadopsi gaya arsitektur kontemporer, yang memiliki luas 4 kali 8 meter, atau mungkin lebih, aku tak begitu tahu persis karena belum pernah mengukurnya dengan pasti. Dan karena bentuk bangunan ini memiliki pola dasar prisma, maka kedua dinding di sisi kiri dan kanannya dibuat miring dengan ketinggian kurang lebih 10 meter, dan saling bertemu di ujung atas. Sedangkan semua dindingnya terbuat dari kaca, yang diapit beberapa ruas kolom berwarna putih sebagai bingkainya, sehingga bila kita berada di dalam chapel, maka akan tampak windows view yang menyajikan keindahan Pantai Pasir Panjang, yang menjadi pembatas Pulau Timor dengan Laut Sawu.

Sementara di dalam chapel, terdapat sebuah meja yang terbuat dari beton. Yang biasa digunakan untuk acara peribadatan, ataupun acara pemberkatan pengantin. Karena chapel ini memang sengaja disediakan oleh pihak Subasuka Paradise, untuk mengakomodasi para pengunjung yang hendak melangsungkan pemberkatan ataupun resepsi pernikahannya di sini.

***

Lima belas menit telah berlalu. Namun masih belum ada tanda-tanda kehadiran dua perempuan yang sedang aku tunggu itu. Akupun mencoba memaklumi, karena yang namanya pramugari, mungkin jadwalnya tidak sebebas orang pada umumnya. Dan juga pramugari itu dikenal dengan gaya dandannya yang super, sehingga wajar kalau bisa menghabiskan waktu lebih lama hanya sekedar untuk make up.

"Permisi, Kakak, ada yang bisa kami bantu?" Tanya seorang waiters perempuan yang tiba-tiba saja datang menghampiriku.

"Oh, iya, saya masih menunggu teman saya." Jawabku.

"Oh baik, Kakak, nanti kalau sudah siap, silahkan hubungi saya." Ucapanya lagi, kemudian perlahan mundur dan hendak kembali ke tempatnya.

"Nona, permisi sebentar!"

"Iya, Kakak?"

"Sementara saya pesan dulu Capucino panas." Kataku kepada si waiters. "Nanti tolong antarkan ke gazebo sana ya." Tambahku lagi seraya menunjuk ke sebuah pondokan kecil berupa panggung yang terbuat dari kayu, yang letakya persis di tepi pantai, tak jauh dari chapel putih itu.

"Oh, baik Kakak." Jawab waiters itu seraya tersenyum.

"Terus, nanti kalau ada dua perempuan yang sedang mencari temannya, siapa tahu itu adalah teman yang saya tunggu. Nanti tolong Nona arahkan ke tempat saya ya." Pintaku sedikit memberi pesan.

"Oh, baik Kakak. Ada lagi yang bisa saya bantu?" Tanya waiters itu dengan ramah.

"Cukup, Nona. Itu dulu." Jawabku singkat.

"Kalau begitu saya permisi dulu, Kakak." Ucapnya seraya bergegas pergi. Dan akupun segera melangkah ke arah gazebo yang dimaksud tadi.

***

Angin laut berhembus cukup kencang, desiran ombak yang menghantam batu karang, terdengar begitu lantang. Malam itu langit lumayan terang, meski tak satupun kulihat adanya bintang. Sementara di tengah laut tampak butiran cahaya mengambang, yang bersumber dari perahu nelayan masyarakat Kupang.

Mungkin karena ini bukan hari libur, sehingga restoran ini tak begitu ramai pengunjung. Hanya ada beberapa tamu yang tampak berada di sana.

Selang beberapa lama, waiters tadi kembali datang dengan membawa segelas Capucino panas, bahkan asapnyapun masih tampak mengepul tipis di atasnya.

"Teman saya belum datang?" Tanyaku penasaran.

"Sepertinya belum, Kakak." Jawab waiters itu dengan ramah. "Silahkan, Kakak." Ucapnya lagi seraya perlahan mundur dan kembali ke tempatnya.

Sementara kulihat jam di tanganku sudah menunjukan pukul 9 kurang 5 menit. Yang artinya sudah satu jam aku berada di sini, namun belum juga tampak tanda-tanda kedatangan mereka.

Cacing-cacing yang aku pelihara di dalam perutku, kini sudah mulai berteriak meminta jatah makan malam. Meskipun tadi siang aku sudah cukup kenyang dengan masakan khas Nasi Padang, di Labuan Bajo bersama Lambertus, namun karena sore ini aku menghabiskan perjalanan yang melelahkan, maka rasa lapar itu kini mulai menyerang. Bahkan semakin terbayang olehku, semangkuk Ikan Kuah Asam khas kota Kupang, yang telah menjadi makanan pavoritku selama di sini.

***

Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 9 lewat 25 menit. Namun kedua perempuan itu tidak juga datang. Yang akhirnya memaksa aku untuk berhenti berkhayal dan mulai menerima kenyataan. Bahwa memang mereka tidak akan pernah datang. Dan kesediaan janji itu sepertinya hanyalah bualan.

Seharusnya dari awal aku tahu diri, kalau semua ini tidak akan pernah mungkin terjadi. Bagaimana bisa, seorang pramugari yang berasal dari langit, mau diajak makan malam oleh manusia antah berantah sepertiku. Mungkin cerita seperti itu hanya ada di FTV, yang teramat jauh dari kenyataan.

Bahkan, buruknya pikiranku hingga dengan kejam akupun membayangkan, bahwa bisa saja malam ini, di saat aku duduk sendirian menunggu mereka, sementara mereka di sana asik berpesta, dengan sesekali mentertawai tentang adanya seorang penumpang SKSD yang bodoh dan mau saja diperdaya.

Dengan perasaan kecewa, segera kuhubungi Bli Made, dan memintanya untuk segera menjemputku.

"Permisi, Kakak, setengah jam lagi kami akan tutup. Barangkali Kakak ada last order?" Tanya waiters itu lagi yang datang menghampiriku.

"Cukup, Nona. Saya juga sudah mau keluar. Sepertinya teman saya juga tidak jadi datang." Jawabku dengan wajah kesal.

"Oh baik, Kakak. Saya ambilkan dulu bill nya." Kata si waiters seraya bergegas pergi.

Tak lama berselang, waiters itu kembali datang dengan membawa secarik kertas berisi tagihan, yang hanya tercantum satu gelas Capucino.

"Kembaliannya, ambil buat Nona ya." Ucapku seraya menyodorkan selembar uang seratus ribu.

"Terima Kasih sekali, Kakak." Jawabnya dengan sumringah. "Mari, Kak, saya tinggal dulu." Ucapnya lagi kemudian berlalu meninggalkanku.

Ponselku bergetar, pertanda adanya SMS masuk, yang ternyata berisi pesan dari Bli Made, yang memberitahu kalau dia sudah menunggu di halaman pakir.

***

Lagu berjudul 'Ingin Kulupakan' yang dinyanyikan oleh Nike Ardila, mengalun merdu di dalam mobil yang membawaku, seakan mewakili apa yang aku rasakan malam itu. Sementara di pikiranku masih terus berkecamuk, segala perasaan sesal, marah, dan kecewa. Namun selalu aku tahan dengan segala kerendahan hati, sambil terus berusaha untuk mawas diri, bahwa memang rasanya aku masih belum pantas untuk mendapatkan sesuatu yang melebihi apa yang sudah aku miliki saat ini. Setidaknya, itulah yang terlintas di dalam hati, mencoba untuk terus menenangkan diri dan menerima setiap kenyataan yang terjadi.

"Sudah makan malam sama pramugari, tapi mukanya asem begitu." Ucap Bli Made, setengah mengagetkan aku dari lamunan.

"Gak jadi, Bli. Mereka gak datang." Jawabku seraya menggenggam seatbelt dengan kencang, mengantisipasi kalau-kalau Bli Made akan terkejut dan kembali menghentakkan kaki ke atas pedal rem, seperti tadi sore.

Syukurlah saat itu dia tidak melakukannya.

"Loh, kenapa?" Tanya dia lagi.

"Mana saya tahu?"

"Ya Mas tanyalah ke orangnya."

"Tanya pake apa, Bli?"

"Emangnya tadi belum sempat tukeran nomor HP?"

"Yah gak etis, masa baru kenal udah minta-minta nomor HP."

"Ya kan bisa tukeran pin BB?"

"Saya kan gak punya BB, Bli." Kataku sedikit mengingatkannya.

"O iya, hahaha. Lagian Mas Rakha ini aneh. Ini tahun 2012, jaman millenium. Orang-orang sudah pegang BB, Android, lah ini HP kok masih titut-titut." Bli Made setengah mengejek.

"Ngomong-ngomong, nama pramugarinya siapa?" Tanya dia lagi sedikit penasaran.

"Aduh..." Aku setengah menepuk dahi.

"Kenapa? Namanya juga gak tahu?"

"Saya belum sempat tanya mamanya, Bli."

"Lah kan tinggal lihat di name plate nya?"

"Name plate gimana maksudnya?" Aku sedikit bingung.

"Itu lho, nama pramugari yang ditempel di dadanya." Jawab Bli Made seraya menunjuk pada bagian dada kirinya.

"O... Kalau pramugari Luxe Air gak pake begituan Bli."

"Lah, terus apa?"

"Cuma ada logo maskapai." Jawabku singkat.

"O...gitu..." Bli Made setengah menganggukkan kepalanya.

"Whuahahaha..." Tiba-tiba dirinya tertawa begitu lepas, sampai-sampai rongga telingaku hampir sakit dibuatnya.

"Namanya gak tahu, nomor HP gak tahu, alamat juga gak tahu. Mas Rakha ini sebenarnya kenalan sama pramugari atau sama hantu? Whuahahaha..." Bli Made masih terus melontarkan ejekannya kepadaku, yang membuat aku semakin merasa bodoh.

"Ya sudah, Mas. Tidak usah diambil hati." Ucapnya lagi mencoba menenangkan perasaanku. Sepertinya dia sudah bisa menebak dari awal apa yang sedang aku alami, mengingat raut mukaku yang memang kini tak lagi secerah tadi sore. "Mereka itu beda alam sama kita. Mana mungkin mereka mau bergaul sama orang-orang seperti kita." Tambahnya lagi.

"Mereka setiap hari kerja dan ketemu sama banyak penumpang, ada cewek, ada cowok, dari yang pas-pasan sampe yang berlebihan. Dan kenyataan bahwa pramugari itu cantik-cantik, maka bukan tidak mungkin kalau penumpangnya banyak yang jatuh hati sama mereka. Dari penumpang yang jelek, sampe yang ganteng kaya Ariel. Dari yang kere sampe yang kaya raya, mereka berlomba-lomba buat dapetin hati para pramugari itu. Dan si pramugari cuma tinggal milih, mau yang mana? Mudah buat mereka dapetin orang yang lebih segalanya dari kita-kita ini." Bli Made seperti mencoba menjelaskan dengan panjang lebar.

"Ditambah lagi kehidupan pramugari itu yang, wuihh glamornya minta ampun. Maka gak heran kalau dia bakal milih-milih cari cowok. Pasti cari yang kaya dan ganteng biar bisa dipamerin. Hahaha." Ucapnya lagi dengan diakhiri gelak tawa, seakan mencoba untuk mencairkan suasana.

Sementara aku hanya bisa tersenyum, menyimak setiap perkataannya. Yah mungkin ada benarnya apa yang dikatakan Bli Made barusan. Mungkin aku yang terlalu kepedean, mengira segala sesuatu yang indah itu akan datang dengan begitu mudah. Nyatanya kehidupan ini tidak sesederhana itu. Tidak seperti dongeng yang selalu berakhir bahagia. Tidak seperti cerita FTV yang terlalu banyak adegan kebetulannya.

Tapi setidaknya, dengan kejadian hari ini, banyak memberiku pelajaran yang berarti, tentang arti sebuah keikhlasan dalam menerima setiap kenyataan apapun yang terjadi dalam hidup ini. Dan menyadarkan aku untuk kembali ke dalam realita. Melupakan apapun yang sudah terjadi sebelumnya. Sebuah kisah kecil yang biasa datang dan pergi begitu saja. Dan takdir sepertinya masih menginginkan aku untuk tetap menjadi seorang Rakha yang hidup dalam kebiasaannya. Seperti sedia kala.

***

Mobil kami melaju cukup kencang, membawaku ke sebuah tempat di mana aku akan beristirahat, untuk mempersiapkan diri melanjutkan rutinitasku keesokan hari, seperti sebelum-sebelumnya.

***

~ CHAPTER 1 ~
END