CHAPTER 2 - Part 1 (Maya)

Cahaya jingga mulai merona bagaikan kelopak bunga, sementara mentari tampak malu bersembunyi di sela gumpalan awan senja, seakan langit perlahan bicara, bahwa panasnya kini mulai mereda.

Di sebuah kursi panjang yang terbuat dari baja, di selasar terimnal kedatangan internasional, Bandara Soekarno-Hatta, tampak seorang gadis kecil tengah duduk sendiri ditemani seonggok boneka piglet yang tak pernah lepas dari pelukannya.

Sementara lalu lalang manusia di sekitarnya, tampak berjalan saling tergesa, ada yang hanya membawa sebuah tas kecil, namun banyak juga di antara mereka yang berjalan beriringan dengan beberapa troli yang memuat setumpuk koper besar entah dari mana.

Tiba-tiba seorang pria setengah baya berkaus lengan pendek dan berkacamata, berjalan menghampiri gadis itu. Tangan kanannya tampak menggenggam segelas minuman dingin, lengkap dengan sedotannya.

"Maaf ya, Papa tadi lama, agak jauh soalnya." Ucap si pria paruh baya seraya menyodorkan segelas minuman dingin kepada gadis kecil itu. Kemudian dirinya duduk di sebelah sang gadis, tangannya mengusap lembut rambut hitam si gadis mungil yang tampak senang dengan minumannya.

"Mama kapan pulangnya, Pa?" Tanya si gadis kecil itu dengan sedikit manja.

"Barusan Mama telepon, sudah mendarat sayang, sebentar lagi juga Mama ke sini." Jawab si ayah diakhiri dengan senyum sambil terus mengusap-usap kepala sang gadis.

Gadis mungil itupun tersenyum bahagia, seraya terus menggigit-gigit sedotan putih yang ada di gelas plastik yang sedari tadi dipegangnya.

Tiba-tiba, pandangan sang gadis teralihkan oleh kehadiran beberapa sosok perempuan yang baru saja melewati mereka.

"Pa, mereka siapa?" Tanya sang gadis seraya menunjuk kepada perempuan-perempuan cantik tersebut.

"Oh, mereka itu pramugari." Jawab sang ayah seraya tersenyum.

"Pramugari itu apa?"

"Pramugari itu, petugas yang ada di dalam pesawat, sayang" 

"Oh yang suka bawa pesawat itu ya, Pa?"

"Bukan, kalau yang bawa pesawat namanya Pilot. Nah kalau Pramugari, tugasnya membantu penumpang selama di dalam pesawat. Sama membantu Pilot juga." Jawab sang ayah mencoba menjelaskan dengan penuh kasih sayang.

Sementara gadis mungil itu tampak semakin terpesona melihat sosok bidadari yang mungkin baru pertama kali dia lihat di dalam hidupnya. Sosok perempuan cantik yang berjalan bagai model di atas catwalk, dengan tubuh semampai dibalut seragam yang menawan. Senyumnya yang indah, seakan tak pernah berhenti untuk terus merekah menghiasi wajahnya yang rupawan. Sementara kaki jenjangnya yang mulus, tampak sempurna dengan tambahan sepatu high heels, berjalan beriringan dengan tangan masing-masing menyeret sebuah koper hitam yang membuat mereka semakin terlihat elegan.

Tiba-tiba sang gadis beranjak dari kursinya, dan berlari menghampiri para pramugari yang tengah berkumpul tak jauh dari tempatnya itu.

"Kakak cantik..." Sapa sang gadis setengah menarik-narik seragam salah satu pramugari yang berdiri di sana.

"Eh adik manis, ada apa adik manis?" Si pramugari perlahan duduk setengah berjongkok dan balik menyapa, sementara senyum manis perlahan tersungging dari bibir merahnya yang kian merekah.

"Kalau sudah besar, aku mau seperti kakak cantik..." Ucap sang gadis dengan nada manja.

Pramugari itu hanya tersenyum mendengarnya.

"Nama adik siapa?" Tanya si Pramugari.

"Namaku Maya, Kak." Jawab sang gadis. "Boleh kan kak, aku ingin seperti kakak?"

"Oh tentu sayang, Maya kan lebih cantik dari Kakak, pasti bisa jadi Pramugari." Ucap si Pramugari dengan lembut seraya mengusap kepala sang gadis.

"Aduh, maaf ya, Mbak, kalau anak saya mengganggu..." Ucap sang ayah yang tiba-tiba menghampiri mereka.

"Oh tidak apa-apa, Pak" Jawab Pramugari itu dengan ramah.

"Ehm..ehm...Jadi sebenernya mau jemput Mama, atau godain Pramugari, Pa?" Tiba-tiba terdengar suara perempuan dari arah belakang sang ayah.

"Eh Mama!? Kok udah ada di sini? Ini si Maya..." Ucap sang ayah setengah terkejut melihat sang istri yang tiba-tiba ada di belakangnya.

"Mama...!!!" Teriak gadis mungil itu seraya berbegas memeluk sang ibu yang baru saja tiba, sementara si pramugari hanya tertawa melihatnya.

***